BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Dilihat dari objek penyelidikannya sosiologi pendidikan
adalah bagian dari ilmu sosial terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang
secara umum juga merupakan bagian dari kelompok ilmu sosial. Sedangkan yang
termasuk dalam lingkup ilmu sosial antara lain: ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu
pendidikan, psikologi, antropologi dan sosiologi. Dari sini terlihat jelas
kedudukan sosiologi dan ilmu pendidikan.
Sejak manusia dilahirkan di dunia ini, secara sadar maupun
tidak, sesungguhnya ia telah belajar dan berkenalan dengan hubungan-hubungan sosial yaitu hubungan antara manusia
dalam masyarakat. Hubungan sosial out dimulai dari hubungan antara anak dengan
orang tua kemudian meluas hingga ketetangga.
B.RUMUSAN MASALAH
Rumusan makalah ini adalah pengertian, sejarah dan ruang
lingkup sosiologi pendidikan.
C.TUJUAN MAKALAH
a. Memahami dan mengetahui sejarah sosiologi pendidikan
b. Memahami dan mengetahui pengertian sosiologi
pendidikan
c. Memahami dan mengetahui ruang lingkup sosiologi
pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
DEFINISI
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Pada dasarnya, sosiologi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
sosiologi umum dan sosiologi khusus. Sosiologi umum menyelidiki gejala
sosio-kultural secara umum. Sedangkan Sosiologi khusus, yaitu pengkhususan dari
sosiologi umum, yaitu menyelidiki suatu aspek kehidupan sosio kultural secara
mendalam. Misalnya: sosiologi masayarakat desa, sosiologi masyarakat
kota, sosiologi agama, sosiolog hukum, sosiologi pendidikan dan sebagainya. Jadi sosiologi pendidikan merupakan
salah satu sosiologi khusus
Beberapa
definisi sosiologi pendidikan menurut
beberapa ahli:
- Menurut
F.G. Robbins, sosiologi
pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan
dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan
filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan
kesemuanya dengan tata
sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural,
proses perkembangan kepribadian, dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan.
- Menurut
H.P. Fairchild dalam
bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa sosiologi
pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan
masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology.
Menurut Prof.
DR S. Nasution, M.A., Sosiologi Pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk
mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan
kepribadian individu agar lebih baik.
- Menurut
F.G Robbins dan Brown, Sosiologi
Pendidikan ialah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan
sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi
pengalaman. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakuan sosial serta
prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
- Menurut
E.G Payne, Sosiologi
Pendidikan ialah studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan
dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan.
- Menurut
Drs. Ary H. Gunawan,
Sosiologi Pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan
masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
A. Pengertian Sosiologi Pendidikan
Perubahan tatanan sosial kehidupan masyarakat Eropa pada
sekitar awal abad ke-20 menyebabkan manfaat sosiologi menjadi penting dalam
mendampingi proses-proses pendidikan di Eropa.
Perkembangan tersebut merupakan efek dari revolusi sosial di
berbagai penjuru wilayah Eropa yang memicu akselerasi perubahan arah
perkembangan masyarakat Eropa.
Era transisi perubahan sosial tersebut menimbulkan konsekuensi-konsekuensi
logis yang tak terduga-duga kedatangannya, antara lain merebaknya keragu raguan akan nilai dan tatanan
normatif yang telah mapan mengalami erosi jika tidak dilakukan penguatan
orientasi.
Bantuan ilmu sosiologi dengan segala komponen
konsepsionalnya mendapat sambutan positif dari kalangan praktisi pendidikan,
sebagai wujud alternatif untuk memperkuat ketahanan sosial melalui pendidikan.
Manifestasi tersebut ditandai dengan kelahiran sosiologi pendidikan sebagai produk
keilmuan baru.
Kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat
sosial dari pendidikan dan memandang masalah-masalah pendidikan dari sudut
totalitas lingkup sosial kebudayaan, politik dan ekonomisnya bagi masyarakat.
Apabila psikologi pendidikan memandang gejala pendidikan dari konteks perilaku
dan perkembangan pribadi, maka sosiologi pendidikan memandang gejala pendidikan
sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat.
Dilihat dari objek penyelidikannya sosiologi pendidikan
adalah bagian dari ilmu sosial terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang
secara umum juga merupakan bagian dari kelompok ilmu sosial. Sedangkan yang
termasuk dalam lingkup ilmu sosial antara lain: ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu
pendidikan, psikologi, antropologi dan sosiologi. Dari sini terlihat jelas
kedudukan sosiologi dan ilmu pendidikan.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki lapangan
penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek
penelitian sosiologi pendidikan adalah tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku
manusia dan institusi sosial yang terkait dengan pendidikan. Tingkah laku itu
hanya dapat dimengerti dari tujuan, cita-cita atau nilai-nilai yang dikejar.
Sebagaimana dalam terminologi sosiologi, sosiologi pendidikan berbicara tentang
pandangan, kelas,
sekolah, keluarga, masyarakat desa, kelompok- kelompok masyarakat dan
sebagainya, masing-masing terangkum dalam wilayah suatu sistem sosial.
Tiap-tiap sistem sosial merupakan kesatuan integral yang mendapat pengaruh dari
:
(1) sistem sosial yang lain
(2) lingkungan alam
(3) sifat-sifat fisik manusia dan
(4) karakter mental penghuninya.
Sosiologi pendidikan telah memiliki lapangan penyelidikan,
sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Menurut Dodson (dalam
Faisal dan Yasik, 1985) sosiologi pendidikan mempersoalkan pertemuan dan
percampuran dari lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas sedemikian rupa
sehingga terbentuknya tingkah laku tertentu dan sekolah atau lingkungan
pendidikan dianggap sebagai bagian dari total cultural miliu. Selaras dengan
pendapat di atas, E. Goerge Payne (dalam Faisal dan Yasik, 1985) yang merupakan
bapak sosiologi pendidikan memberikan penekanan bahwa dalam lembaga-lembaga,
kelompok-kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan yang saling terjalin, di
mana di dalam interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisasikan
pengalamannya.
Penjelasan tersebut melekat kuat aspek sosiologisnya.
Sementara dari segi paedagogisnya, bahwa seluruh individu dan masyarakat dari
anak-anak sampai orang dewasa, kelompok-kelompok sosial dan proses-proses
sosialnya, berlangsung di seputar sistem pendidikan yang selalu bergerak
dinamis.
Sosiologi pendidikan ialah kajian tentang bagaimana insititusi awam dan pengalaman individu mempengaruhi pendidikan dan hasilnya. Ia menumpukkan sistem persekolahan awam bagi masyarakat perindustrian modern, termasuk perluasan pendidikan tinggi, pendidikan lanjutan, dan pendidikan dewasa.
Apabila psikologi pendidikan memandang gejala pendidikan dari konteks perilaku dan perkembangan pribadi, maka sosiologi pendidikan memandang gejala pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat. Dilihat dari objek penyelidikannya sosiologi pendidikan adalah bagian dari ilmu sosial terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang secara umum juga merupakan bagian dari kelompok ilmu social
Sejak manusia dilahirkan di dunia ini, secara sadar maupun
tidak, sesungguhnya ia telah belajar dan berkenalan dengan hubungan-hubungan sosial yaitu hubungan antara manusia
dalam masyarakat. Hubungan sosial out dimulai dari hubungan antara anak dengan
orang tua kemudian meluas hingga ketetangga.
Dalam hubungan sosial tersebut terjadilah proses pengenalan dan proses pengenalan tersebut mencakup berbagai budaya, nilai, norma dan tanggung jawab manusia, sehingga dapat tercipta corak kehidupan masyarakat yang berbeda-beda dengan masalah yang berbeda pula.
Dalam hubungan sosial tersebut terjadilah proses pengenalan dan proses pengenalan tersebut mencakup berbagai budaya, nilai, norma dan tanggung jawab manusia, sehingga dapat tercipta corak kehidupan masyarakat yang berbeda-beda dengan masalah yang berbeda pula.
Sosiologi ini dicetuskan oleh Aguste Comte maka dari itu dia dikenal sebagai bapak sosiologi, ia lahir di Montpellier tahun 1798. Ia merupakan seorang penulis kebanyakan konsep, prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi berasal dari Comte. Comte membagikan sosiologi atas statika social dan dinamika social dan sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.Bersifat
empiris yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif.
2.
Bersifat teoritis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dan hasil observasi.
3. Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang ada kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus
3. Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang ada kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus
4. Bersifat nenotis yaitu tidak
mempersoalkan baik buruk suatu fakta tertentu tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut.
Comte mengatakan bahwa tiap-tiap cabang ilmu pengetahuan
manusia mesti melalui tiga tahapan perkembangan teori secara berturut-turut
yaitu keagamaan atau khayalan, metafisika atau abstrak dan saintifik atau
positif .
Setelah selesai perang dunia II, perkembangan masyarakat
berubah secara drastis dimana masyarakat dunia menginginkan adanya perubahan dalam
menyahuti perkembangan dan kebutuhan baru terhadap penyesuaian perilaku lembaga
pendidikan. Oleh karena itu disiplin sosiologi pendidikan yang sempat tenggelam
dimunculkan kembali sebagai bagian dari ilmu-ilmu penting dilembaga pendidikan.
Menurut pendapat Drs. Ary H. Gunawan, bahwa sejarah
sosiologi pendidikan terdiri dari 4 fase, yaitu :
a. fase pertama, dimana sosiologi sebagai
bagian dari pandangan tentang kehidupan bersama filsafat umum. Pada fase ini
sosiologi merupakan cabang filsafat maka namanya adalah filsafat sosial.
b. Dalam fase kedua ini, timbul keinginan-keinginan untuk
membangun susunan ilmu berdasarkan pengalaman-pengalaman dan
peristiwa-peristiwa nyata (empiris). Jadi pada fase ini mulai adanya keinginan
memisahkan diri antara filsafat
dengan sosial.
c. sosiologi pada fase ketiga ini, merupakan fase awal dari
sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Orang mengatakan bahwa
Comte adalah “bapak sosiologi”, karena ialah yang pertama kali mempergunakan
istilah sosiologi dalam pembahasan
tentang masyarakat. Sedangkan
Saint Simon dianggap sebagai “perintis jalan” bagi sosiologi. Ia bermaksud
membentuk ilmu yang disebut “Psycho-Politique”.
Dengan ilmu tersebut Saint Simon dan juga Comte mengambil
rumusan dari Turgot (1726-1781) sebagai orang yang berjasa terhadap sosiologi,
sehingga sosiologi menjadi tumbuh sendiri.
d. pada fase yang terakhir ini, ciri utamanya adalah
keinginan untuk bersama-sama memberikan batas yang tegas tentang obyek
sosiologi, sekaligus memberikan pengertian-pengertian dan metode-metode sosiologi
yang khusus. Pelopor sosiologi yang otonom dalam metodenya ini berada pada
akhir abad 18 dan awal 19 antara lain adalah Fiche, Novalis, Adam Muller,
Hegel, dan lain-lain.
Sejarah Perkembangan Sosiologi Pendidikan
Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya , kenyataan
sosial menunjukkan suatu perubahan yang terjadi begitu cepat dalam masyarakat.
Perubahan sosial yang cepat tersebut terjadi di abad ke-19, sebagai akibat
revolusi industri di Inggris. Akibat perubahan tersebut menurut Mc Kee (dalam Faisal,
tanpa tahun) menyebabkan terjadinya apa yang dinamakan keterkejutan intelektual
kelompok cerdik pandai yang salah satu diantaranya adalah para sosiolog.
Lester F. Ward dapat dikatakan sebagai pencetus gagasan
timbulnya studi baru tentang Sosiologi Pendidikan. Gagasan tersebut muncul
dengan idenya tentang evolusi sosial yang realistik dan memimpin perencanaan
kehidupan pemerintahan (Vembriarto, 1993). John Dewey (1859-1952) secara formal
dikenal sebagai tokoh pertama yang melihat hubungan antara pendidikan struktur
masyarakat dari bentuk semulangan yang masih bersahaja. Secara formal, pada
tahun 1910 Henry Suzzalo memberi kuliah Sosiologi Pendidikan di Teachers
College University Columbia (Vembriarto, 1993). Pada tahun 1913, Emlie Durkheim
telah memandang pendidikan sebagai suatu “social thing” (Ikhtiar sosial). Payne
(1928) menjelaskan bahwa Sosiologi Pendidikan merupakan sebuah ilmu pengetahuan
yang menjadi alat (mean) untuk mendeskripsikan dan menjelaskan institusi,
kelompok sosial, dan proses sosial yang merupakan hubungan sosial di dalamnya
individu memperoleh pengalaman yang terorganisasi.
Sosiologi Pendidikan di dalam menjalankan fungsinya untuk
menelaah berbagai macam hubungan antara pendidikan dengan masyarakat, harus
memperhatikan sejumlah konsep-konsep umum. Sosiologi pendidikan merupakan suatu
disiplin ilmu yang masih muda dan belum banyak berkembang. Atas dasar tersebut
dikalangan para ahli Sosiologi Pendidikan timbul beberapa kecendrungan yang
berbeda yaitu :
- Golongan
yang terlalu menitikberatkan pandangan pendidikan daripada sosiologinya
- Golongan
Applied Educational (Sociology) terutama terdiri atas ahli-ahli sosiologi
yang memberikan dasar pengertian sosial kultural untuk pendidikan
- Golongan
yang terutama menitikberatkan pandangan teoritik
Tujuan
Sosiologi Pendidikan
Sosiologi
Pendidikan dalam perkembangannya mempunyai beberapa tujuan praktis, diantaranya
adalah :
- Memberikan
analisis terhadap pendidikan sebagai alat kemajuan sosial.
- Merumuskan
tujuan pendidikan
- Sebagai
sebuah bentuk aplikasi Sosiologi terhadap pendidikan
- Menjelaskan
proses pendidikan sebagai proses sosialisasi
- Memberikan
pengajaran Sosiologi bagi tenaga-tenaga kependidikan dan penelitian
pendidikan
- Menjelaskan
peranan pendidikan di masyarakat
- Menjelaskan
pola interaksi di sekolah dan antara sekolah dengan masyarakat
Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Masalah-masalah
yang diselidiki sosiologi pendidikan antara lain meliputi pokok-pokok
berikut ini.
1.
Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
a. Hubungan pendidikan dengan sistem sosial atau
struktur sosial,
b. Hubungan antara sistem pendidikan dengan proses
kontrol sosial dan sistem kekuasaan,
c. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan,
d. Fungsi sistem pendidikan dalam proses
perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo, dan
e. Fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan
kelompok rasial, kultural dan sebagainya.
2.
Hubungan antar manusia di dalam sekolah
Lingkup ini lebih condong menganalisis struktur sosial
di dalam sekolah yang memiliki karakter berbeda dengan relasi sosial
di dalam masyarakat luar sekolah, antara lain yaitu:
a. Hakikat kebudayaan sekolah sejauh ada
perbedaannya dengan kebudayaan di luar sekolah, dan
b. Pola
interaksi sosial dan struktur masyarakat sekolah, yang antara lain
meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola
kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam clique serta
kelompok-kelompok murid lainnya.
3.
Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di
sekolah/lembaga pendidikan
a. Peranan sosial guru-guru/tenaga
pendidikan,
b. Hakikat kepribadian guru/ tenaga
pendidikan,
c. Pengaruh kepribadian guru/tenaga
kependidikan terhadap kelakuan anak/peserta didik, dan
d. Fungsi sekolah/lembaga pendidikan
dalam sosialisasi murid/peserta didik.
4.
Lembaga Pendidikan dalam masyarakat
Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/
lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam
masyarakat di sekitar sekolah/lembaga pendidikan.
Hal
yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu
a. Pengaruh masyarakat atas organisasi
sekolah/lembaga pendidikan,
b. Analisis proses pendidikan yang
terdapat dalam sistem sosial dalam
masyarakat luar sekolah,
c. Hubungan antar sekolah dan masyarakat dalam
pelaksanaan pendidikan, dan
d.
Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat berkaitan dengan
organisasi sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam
masyarakat serta integrasinya di dalam keseluruhan kehidupan masyarakat.
B. PERANAN SOSIOLOGI TERHADAP
DUNIA PENDIDIKAN
Dalam pengertian sederhana, sosiologi pendidikan memuat
analisis-analisis ilmiah tentang proses interaksi sosial yang terkait dengan
aktivitas pendidikan baik dari lingkup keluarga, kehidupan sosio-kultur
masyarakat maupun pada taraf konstelasi di tingkat nasional. Sehingga dari sini
bisa di dapat sebuah gambaran objektif tentang relasi-relasi sosial yang
menyusun konstruksi total realitas pendidikan di negara kita. Sampai pada
pemahaman tersebut segala bentuk wawasan dan pengetahuan sosiologis guna
membedah tubuh pendidikan kita menjadi perlu untuk dibahas agar proses-proses
pengajaran tidak bias ke arah yang kurang relevan dengan kebutuhan bangsa.
Di sisi lain, jika perhatian kita tertuju pada lembaran
sejarah perkembangan pendidikan masyarakat Indonesia, produk kemajuan sosial,
meningkatnya taraf hidup rakyat, akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dan
penerapan inovasi teknologi merupakan bagian dari prestasi gemilang hasil jerih
payah lembaga pendidikan kita dalam upaya memajukan kehidupan bangsa Indonesia.
Meningkatnya jumlah kaum terpelajar telah menjadi bahan
bakar lajunya lokomotif kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Akan
tetapi, beberapa kendala yang melingkari dunia pendidikan dalam kaitan dengan
menurunnya kualitas output pendidikan kita menjadi bukti bahwa wajah
persekolahan kita memerlukan banyak perbaikan. Melihat keberadaan sekolah
begitu penting bagi eksistensi dan keberlangsungan pendidikan di negara kita
maka topik ini akan mengarahkan lingkup kajian sosiologisnya kepada hakikat
peran dan fungsi lembaga sekolah sebagai lembaga pendidikan.
Tiga sub-judul berikutnya akan menindaklanjuti fokus
pembahasan dengan titik tekan yang lebih spesifik. Pada sub-judul pertama,
banyak digali tentang hubungan-hubungan sosial di dunia pendidikan dalam wadah
organisasi formal. Di sini kriteria sekolah sebagai salah satu wujud organisasi
formal ditinjau dari kaitan unsur-unsur sosial pendukungnya dalam proses mencapai
tujuan pendidikan. Pada sub judul kedua lebih menyoroti konteks transaksi
pendidikan di ruang kelas.
Hal ini ditekankan, sebab ruang kelas merupakan representasi
dari proses-proses pendidikan yang sesungguhnya, karena di dalamnya telah
melibatkan komponen-komponen belajar mengajar secara langsung. Sedangkan pada
sub judul yang ketiga, tinjauannya bertolak dari kenyataan bahwa sekolah tidak
bisa lepas dari hubungan wadah eksternalnya. Kondisi sosio-kultur masyarakat tidak bisa tidak merupakan salah satu faktor penting yang
berpengaruh terhadap proses-proses pendidikan di
sekolah.
Tiga batasan tinjauan di atas akan dipaparkan sebagai upaya
untuk menyajikan beberapa manfaat analisis sosiologis terhadap dunia pendidikan
A. Sekolah sebagai Organisasi
Tempo dulu masyarakat sederhana belum mengenal lembaga-
lembaga resmi yang mengatur penyaluran kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Contohnya
masyarakat Indian yang tidak perlu meminta bantuan lembaga sekolah untuk
mengajarkan kepandaian memanah kepada generasi penerusnya. Bagi mereka, cukup
dengan uluran tangan dari para ayah dan saudara tuanya maka bisa dipastikan
hampir seluruh remaja-remaja muda mampu menguasai teknik memanah dari tingkat
dasar sampai kategori mahir Seiring dengan bergulirnya roda sejarah kehidupan,
maka prestasi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh manusia menjadi
sedemikian kompleks, sehingga pada fase inilah konsep pengetahuan dan
kemampuan–kemampuan gemilangnya telah menjadi penentu arah kehidupan di masa
yang akan datang.
Beberapa faktor telah melatar belakangi terbentuknya
lembaga-lembaga tertentu untuk mengelola alokasi pemenuhan kebutuhan di
antaranya,
(1) pertumbuhan jumlah populasi manusia yang mempengaruhi
tingkat penguasaan dan ketersediaan sumber daya alam,
(2) kompleksnya pranata kebudayaan dan mekanisme pengetahuan
beserta teknologi terapan, dan
(3) implikasi tingkat akal budi dan mentalitas manusia yang
kian rasional. Secara singkat, terbentuknya lembaga pendidikan merupakan
konsekuensi logis dari taraf perkembangan masyarakat yang sudah kompleks.
Sehingga untuk mengorganisasikan perangkat perangkat pengetahuan dan
keterampilan tidak memungkinkan ditangani secara langsung oleh masing-masing
keluarga. Perlunya pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan
apresiasi pengetahuan serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepada para
generasi muda agar terjamin kelestariaannya merupakan cetak biru kekuatan yang
melatar belakangi berdirinya sekolah sebagai
lembaga pendidikan.
Walaupun wujudnya berbeda-beda dalam tiap-tiap negara,
keberadaan sekolah merupakan salah satu indikasi terwujudnya masyarakat modern.
Dalam hal ini para sosiolog telah melakukan ikhtiar ilmiah untuk menentukan
taraf evolusi perkembangan masyarakat manusia.
Dimulai dari Auguste Comte (1798-1857) dengan karyanya yang
berjudul Course de philosophie Positive (1844). Beliau menekankan hukum
perkembangan masyarakat yang terdiri dari tiga jenjang, yaitu jenjang teologi
di mana manusia mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan mengacu pada
hal yang bersifat adikodrati. Taraf perkembangan selanjutnya disusul pencapaian
manifestasi kemampuan manusia untuk menangkap fenomena lingkungan dengan
menyandarkan pada kekuatan-kekuatan metafisik atau abstrak.
Hingga pada level tertinggi, taraf positif. Iklim kehidupan
demikian ditandai dengan prestasi kemampuan manusia untuk menjelaskan gejala
alam maupun sosial berdasar pada deskripsi ilmiah melalui pemahaman kekuasaan
hukum objektif.
Dari pengertian tersebut perwujudan manusia positif hanya mampu ditopang oleh orientasi
pendidikan yang sudah terlembaga secara mantap melalui aplikasi fungsi
sekolah-sekolah modern. Di lain pihak, tak kalah pentingnya buah pikiran Emile
Durkheim (1858-1912) berupa buku yang berjudul The Division of Labour in
Society (1968) juga menganalisis kecenderungan masyarakat maju yang di dalamnya
terdapat pembagian kerja dalam pemetaan bidang-bidang ekonomi, hukum, politik
pendidikan, kesenian dan bahkan keluarga. Gejala tersebut merupakan dampak dari
penerapan sistem ekonomi industri yang di dalamnya memerlukan spesialisasi peran untuk mengusung
keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup para anggotanya.
Sekali lagi ilustrasi di atas hanya dapat tercermin pada
konteks organisasi lembaga pendidikan yang telah mampu memproduk manusia
profesional dengan spesifikasi keahlian. Sedangkan untuk mewujudkan figur-figur
manusia itu hanya mampu dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan modern.
Dari kedua pernyataan ilmiah para tokoh sosiologi di atas
dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan sekolah yang mewarnai dunia kehidupan
manusia saat ini merupakan sebuah keniscayaan peradaban modern yang lekat
dengan renik-renik pergulatan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi mutakhir.
Sementara melihat konteks sosial yang terbentuk dapat dijawab pula sekolah juga
masuk dalam kategori-kategori organisasi pada umumnya yang mengemban
konsekuensi-konsekuensi organisatoris.
Oleh karena itu keberadaan sekolah patut dimasukkan sebagai
salah satu organisasi yang memanfaatkan mekanisme birokratis dalam mengelola
kerja-kerja institusinya. Beberapa prinsip penerapan birokrasi juga terdapat
dalam lembaga sekolah antara lain:
1. Aturan dan prosedur yang ketat melalui
birokrasi,
2. Memiliki hierarki jabatan dengan
struktur pimpinan yang mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda,
3. Pelaksanaan adminstrasi secara professional,
4. Mekanisme perekrutan staf dan pembinaan secara
bertanggung jawab,
5. Struktur karier yang dapat diidentifikasikan, dan
6. Pengembangan hubungan yang bersifat formal dan impersonal
Sekolah memang tidak menggunakan semua ketentuan-ketentuan di atas secara ketat dan
linear. Kaitan dengan hal tersebut, berpendapat bahwa sekolah mempunyai ciri “struktur yang
longgar”.
Yang dimaksud dengan kelonggaran struktural oleh Bidwell
adalah prasyarat-prasyarat
mutlak dari kekuatan-kekuatan struktural tidak harus dilaksanakan sepenuhnya
oleh guru dalam menerapkan metode belajar-mengajar kepada para siswanya. Tiap
guru mempunyai kebebasan tertentu untuk menentukan bagaimana ia mengajar di
kelas, walaupun perangkat-perangkat materinya telah ditentukan oleh kurikulum
di atasnya Masih dalam lingkup sekolah sebagai organisasi formal, beberapa ahli
telah menyajikan pranata-pranata manajemen yang berbeda-beda dalam menerapkan
fungsi manajemen di sekolah Di antaranya adalah sebagai berikut.
1.
Manajemen Ilmiah
Pokok-pokok dari manajemen ilimiah antara lain:
- Menggunakan alat ukur dan perbandingan yang jelas dan tepat,
- Menganalisis dan membandingkan proses-proses yang telah dicapai, dan
- Menerima hipotesis terkuat yang lulus dari verifikasi serta menggunakannya sebagai kriteria tunggal Implikasinya jelas, penerapan kriteria tunggal bagi sekolah demi mencapai maksimalisasi hasil-hasil belajar secara efisien dan efektif. Tampak jelas jenis manajemen ini berkarakter mekanistis, ketat, mengutamakan hasil kuantitatif, serta cenderung mengesampingkan unsur-unsur manusiawi di dalam prosesnya.
2.
Sistem Sosio-teknis
Sebagai sistem sosio-teknis, sekolah
mencakup banyak hal yang menjadi input organisasi, namun stafnya akan
“mengetahui” sifat input-inputnya. Dengan begitu sekolah dapat menentukan
instrumen-instrumen pengolahan demi menjamin hasil yang optimal. Sampai di sini
definisi sosio-teknis memberikan titik tekan pada pengamatan dan pengelompokan
jenis-jenis masukan dalam sekolah lalu ditindaklanjuti dengan cara-cara yang
relevan dengan “bahan mentah”
tersebut. Manajemen sosio-teknis masih menggunakan prinsip manajemen formal, sehingga beberapa
unsur yang melekat pada prinsip manajemen ilmiah juga dimiliki oleh sistem sosio-teknis.
3.
Pendekatan Sistemik
Model
pengelolaan yang paling banyak digunakan adalah bentuk teori sistem. Ciri kahs
pendekatan ini adalah pengakuan adanya bagian-bagian suatu sistem yang terkait
erat pada keseluruhan. Hubungan timbal balik itu mengisyaratkan detail bagian
yang cukup kompleks dan proses interaksi secara keseluruhan dalam sebuah
organisasi. Implikasi lain, batas-batas antarbagian harus diketahui dengan
tegas dalam mengidentifikasi komponen-komponen lembaga sekolah .
Secara internal model teori sistem, mengadopsi
penanganan lembaga formal pada umumnya untuk menggerakkan roda organisasi. Akan
tetapi pendekatan ini juga memperhatikan sistem sosial yang bekerja di luar
sekolah. Tiap sekolah berusaha pula menampung tuntutan-tuntutan dari para orang
tua siswa, industri setempat, pendapat profesional dan kebijaksanaan
pendidikan.
4.
Pendekatan Individual
Baik pendekatan manajemen maupun pendekatan sistem cenderung “membendakan” organisasi.
Organisasi dipandang seakan-akan seperti makhluk besar yang
mengatasi dan mengecilkan peran anggota-anggotanya (terutama para murid).
Sebagai antitesisnya, maka pendekatan individual mengakomodasi nilainilai
kemanusiaan dalam organisasi. Akan tetapi pada perkembangannya pendekatan
individual memiliki dua keompok pandangan yakni:
a. Teori Pasif
Pandangan yang menekankan pengamatan input pendidikan secara kolektif. Di mana sudut terpenting yang harus diperhatikan oleh sekolah adalah proses kematangan pribadi para siswa yang harus difasilitasi, diakomodasi kebutuhannya dan dibimbing menuju kedewasaan.
Oleh karena itu, proporsi organisasi sekolah yang cenderung
mekanistis harus dipola menjadi flksibel agar para anggotanya bisa berekspresi dengan
optimal.
b.Teori Aktif
Konstruksi pendekatan yang mengutamakan kemampuan aktif para siswa untuk menginterpretasikan makna-makna normatif dan tindakan-tindakan yang diharapkan berdasarkan iklim kesadaran mereka.
proses sosialisasi di sekolah bukanlah imperatif-imperatif
moral yang memaksa akan tetapi justru sekolah menjadi “pembantu” para siswa
dalam mendokumentasi dan memantapkan makna-makna kehidupan yang didapat oleh
mereka sendiri. Pendekatan ini sangat kental dengan pengaruh aliran fenomenologis
dalam sosiologi.
Oleh karena itu teori aktif
bermaksud menekankan makna-makna tafsiran budaya yang didapat oleh
individu-individu di dalam mempersepsikan fungsi sekolah bagi mereka.
Berbagai pandangan di atas telah menandaskan aspek-aspek
penting yang berperan dan berinteraksi di dalam sekolah. Pada kenyataannya
seluruh konsep manajemen yang ditekankan oleh masing-masing ahli tersebut
selalu tercantum di dalam sekolah. Tentunya fungsionalisasi masing-masing model
manajemen di atas tergantung pada konteks pandangan manusia yang mengamatinya.
Apabila pada aspek makro maka dominasi gabungan fungsi manajemen sistem,
sosio-teknis dan ilmiah lebih berperan penting dalam membantu kerja penglihatan
intelektual kita. Berbeda pada dimensi yang lebih mikro, maka tipe ideal
pendekatan individual adalah aspek yang harus diperhatikan dalam menelah
unsur-unsur yang bermain di dalam sekolah.
Dalam hal ini kita akan lebih condong mengamati organisasi
sekolah dalam skala makronya. Analisis sosial yang muncul seputar sekolah
banyak mengupas konflik-konflik antar peranan yang terjadi di lembaga sekolah.
Seperti yang diungkapkan bahwa lembaga pendidikan sering dirasuki oleh
nilai-nilai yang terkadang bertentangan antarpihak baik dari para guru, orang
tua, staf birokrat, siswa, maupun pihak aparat pimpinan sekolah.
Dari sini analisis yang bisa disajikan untuk mengamati
keberadaan sekolah sebagai lembaga formal dalam aktivitas pendidikannya terbagi
menjadi dua lahan persoalan yakni:
Sudah menjadi konsekuensi bagi setiap organisasi untuk
menetapkan tujuan lembaga. Berbeda dengan organisasi pada umumnya, sekolah
memiliki ciri khas yang agak unik, khususnya dari objek yang menjadi tujuannya.
Dengan menetapkan posisi peran kelembagaan yang bertugas untuk membekali
peserta didik seperangkat pengetahuan dan keterampilan maka sekolah telah
mengumandangkan jenis tujuan yang bersifat abstrak. Hal ini tentu saja berbeda
dengan lembaga lain yang jelas-jelas memiliki objek tujuan konkrit.
Contohnya lembaga perusahaan, tentunya bagi siapa saja akan
jelas memahami arti “mencari keuntungan maksimal” bagi perusahaan. Baik itu
manajer pemasaran, direktur pabrik, buruh angkutan, sopir, sampai tenaga
administrasi akan jelas mengartikan definisi tujuan tersebut. Sementara sekolah
memiliki tujuan yang bersifat multi-penafsiran dan agak kabur. Selain itu,
dimensi abstrak yang menjadi titik tolak penafsiran para praktisi sekolah dapat
memunculkan hambatan besar untuk menyatukan pemahaman makna tujuan pendidikan
antar posisi.
Berdasarkan struktur organisasi yang terbentuk, guru
bertugas sebagai pelaksana pengajaran kepada siswa, supervisor berfungsi
membina para guru dan tugas formal administratur sekolah ialah untuk
mengkoordinasikan dan memadukan berbagai ragam aktivitas dalam lingkungan
sekolah. Masing-masing pemegang posisi mempunyai hak dan kewajiban tertentu
dalam hubungan dengan posisi lain. Sudah tentu kompleksitas peranan menimbulkan
nilai sosial yang berbeda-beda dan apabila ditarik dalam suatu prospek tujuan
maka akan melibatkan bermacam-macam penafsiran. Selain objek tujuan yang sarat
nilai, posisi-posisi peran yang cukup kompleks di lingkup internal, maka sebuah
sekolah akan berhadapan langsung dengan komponen nilai-nilai lain di luar
lingkungannya. Spesifikasi tujuan yang telah ditetapkan oleh sekolah ternyata
harus bersinggungan erat dengan alokasi peran pendidikan di luar sekolah,
terutama keluarga.
Berkaitan dengan hal tersebut, suatu observasi ilmiah yang
dilakukan oleh Universitas Havard telah menunjukkan hasil yang cukup dramatis.
Setelah diteliti, para guru di sekolah-sekolah New England memiliki pandangan
yang berbeda tentang tujuan pendidikan, begitu juga antar guru dengan kepala
sekolahnya, selain itu indikasi serupa ditunjukkan perbedaan nilai antar
administratur dengan Badan Pertimbangan Sekolah. Lebih jauh bukti penelitian
juga menunjukkan sumber utama yang melahirkan konflik di kalangan praktisi
sosial tentang tujuan dan program-program sekolah.
Di pandang
dari sudut tujuannya ternyata lembaga sekolah harus melakukan bermacam-macam
proses penyatuan pandangan baik dari wilayah internal maupun asumsi-asumsi
publik di lingkup eksternal. Telaah sosiologis telah memberikan sumbangan
konseptual untuk membedah objek tujuan sekolah dalam pola-pola hubungannya dengan pihak
internal maupun luar lembag sekolah.
2. Kompleks permasalahan di sekitar orientasi lintas posisi dalam koridor efisiensi dan efektivitas
Kompleks pertentangan tersebut merupakan derivasi dari
perangkat-perangkat manusia yang memiliki peran-peran spesifik di lembaga
sekolah. Banyak buku teks yang mengemukakan tentang peranan guru dan
adminsitratur pendidikan seolah-olah harmonis dan serba sinergis. Padahal
kenyataan membuktikan, salah satu faktor yang memberatkan kerja organisasi
adalah gejala kesalahpahaman untuk memahami kawan sekerja berkenaan dengan hak
dan kewajiban yang berbeda sesuai dengan status pekerjaannya. Kecenderungan
yang terjadi, hampir semua tanggung jawab dan tugas sekolah yang berhubungan
dengan siswa selalu dilimpahkan kepada seorang guru. Sedangkan pemberitaan
fungsifungsi peran yang berbeda baik dari aspek bimbingan konseling, pelayanan
birokrasi dan keuangan, serta peran penegak ketertiban dan kedisplinan tidak
pernah tersiar secara utuh kepada para siswa.
Dalam analisis sosiologis, konflik peranan di lingkup
internal sekolah disebabkan pada rangkaian hak dan kewajiban yang mempengaruhi
harapan para pemegang status pekerjaan.
Ruangruangkesadaran peran tersebut telah terpecah belah pada
akumulasi integrasi yang terkotak-kotak pada masing-masing kelompok pekerjaan.
Dalam waktu yang sama kepala sekolah mengharapkan para guru
selalu tertib dalam melaksanakan
pengajaran. Sementara guru sendiri selalu berkeinginan memberikan ragam materi yang
selengkap-lengkapnya kepada para siswa. Hal ini tentu bertentangan dengan
asumsi umum para siswa yang jelas-jelas berharap agar para guru tidak terlalu
banyak menyodorkan materi yang harus mereka hafalkan. Hal tersebut tentunya
semakin menjauhkan kesadaran warga sekolah mengenai hakikat mendasar dari
fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan. Mereka semakin jauh terjerumus pada
labirin-labirin pertentangan seputar ritual-ritual teknis pemenuhan kebutuhan
organisasional.
Dari sini tujuan awal penerapan adminstrasi pendidikan untuk
mempermudah lembaga sekolah dalam menjalankan fungsi-fungsi edukatif beralih
menjadi raksasa permasalahan yang selalu menggelayuti mentalitas warganya.
Tentu saja dalam hal ini sumbangsih teori sosiologi cukup strategis guna
memberikan gambaran komperhensif tentang gurita konflik yang terbentuk di
lingkungan sekolah dalam kaitan pertentangan antarperan.
Dengan begitu, para praktisi pendidikan diharapkan memiliki
bahan mentah yang lengkap mengenai polapola sosial yang tersusun di dunia
pendidikan formal beserta
varian-varian permasalahannya.
B. Kelas sebagai Suatu Sistem
Sosial
Pada dasarnya, proses-proses pendidikan yang sesungguhnya adalah interaksi kegiatan yang berlangsung di ruang kelas. Untuk keperluan tersebut pembahasan mengenai kegiatan kelas menempati sub-topik tersendiri dalam susunan kajian topik ini. Dari sudut sosiologi beberapa pendekatan telah digunakan sebagai alat analisis untuk mengamati proses-proses yang terjadi di ruang kelas.
Dimulai dari pengamatan Parson yang mengetengahkan
argumentasi ilmiahnya tentang kelas sebagai suatu sistem sosial. Berkaitan
dengan fungsi sekolah maka kelas merupakan kepanjangan dari proses sosialisasi
anak di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Kiprah interaksi di kelas secara
khusus berusaha untuk memantapkan penanaman nilai-nilai dari masyarakat.
Di sisi lain, pendekatan interaksionis cenderung menekankan
analisis sosio-psikologis untuk melihat ruang kelas. Sejumlah tokoh seperti
Delamont, Lewin, Lippit, White dan H.H. Anderson adalah figur-figur yang
mengeksplorasi aspek interaksi antarguru dan murid. Selaras dengan hal
tersebut, Withall, 1949, yang memanfaatkan karya-karya pendahulunya mencoba
menemukan pengaruh situasi sosial emosional dalam ruang kelas. Ia membedakan
antara metode pengajaran yang cenderung teacher-centred dengan tipologi
pembelajaran Learner-centred, dengan beranggapan bahwa tipe yang kedua
merupakan cara yang paling efektif untuk kegiatan pembelajaran di kelas.
Dalam satu rangkaian penelitian Flanders,1967 memperkuat
studi tentang interaksi di kelas. Menurut pendapatnya, semakin besar
ketergantungan murid kepada guru, semakin kurang siswa tersebut mengembangkan
strategi-strategi belajarnya sendiri Inti dari penerapan analisis interaksi
adalah menganalisis seluruh proses interaksi edukatif di kelas dan
pengaruh-pengaruh psikologisnya kepada para siswa.
Hal ini terkait erat dengan metode pendekatan yang
diterapkan oleh guru dalam
mengelola pembelajaran di kelas.Model pendekatan interpretatif juga bermanfaat
untuk menangkap segala hal yang terpola di dalam aktivitas ruang kelas.
Yang termasuk hasil penelitian di lingkup kategori
interpretatif adalah analisis Waller. Bagi Waller, pendidikan merupakan seni
menanamkan definisi-definisi situasi yang berlaku pada kaum muda dan sudah
diterima oleh golongan penyelenggara. Dengan demikian sekolah merupakan satu
alat ampuh untuk melakukan kontrol social, Inti dari studi tersebut mencoba menerangkan tentang fungsi
sekolah yang mempengaruhi alam kesadaran para siswa untuk selalu konsekuen
mengamalkan kriteria-kriteria penafsiran nilai yang ditekankan oleh sekolah.
Analisis lain juga mengungkap bahwa sumber ketegangan
antarguru dan siswa berasal dari dualisme ketegangan peran guru di dalam kelas.
Sebagai bawahan kepala sekolah seorang guru harus menerapkan ketentuan
administratif sekolah secara ketat kepada murid-murid, namun di lain pihak
tanggung jawab moral sebagai pendidik yang sarat dengan kebijaksanaan akan
menghalanghalangi penerapan sanksi kepada siswa tersebut.
Sebagai sistem sosial tentunya di dalam kelas telah
terbentuk konfigurasi sosial di dunia pergaulan siswa. Dari sini tampak konsep
diferensiasi mengacu pada praktik organisasi penentuan penghuni kelas
berdasarkan prestasi-prestasi siswa. Tentunya implikasi dari pengelompokan ini
akan berakibat terbentuknya polarisasi antarkelompok. Baik itu kelompok si
bodoh, si kaya, si pandai, dan si pemalu. Apabila guru mengetahui fakta
tersebut dan mampu mengelola interaksi antarkelompok maka proses penangkapan
pengetahuan menjadi semakin dinamis dan cukup kaya. Sebaliknya apabila guru
cenderung masa bodoh dengan keadaan demikian justru semakin mempertegas potensi
disintegrasi antarsiswa. Pada umumnya guru secara gegabah juga dengan mudah
menuruti subjektifitas perasaannya untuk menuruti kelompok-kelompok siswa yang
menyenangkan perasaannya. Sekali lagi jika hal terakhir yang terjadi maka
kecemburuan sosial malah menjadi iklim pergulatan sosial di lingkungan kelas.
Patut ditambahkan, analisis sosiologis juga mengungkapkan
betapa eratnya kaitan antara tingkah laku dan sikap-sikap seseorang dengan
latar belakang kelompok aspirasi yang digandrunginya. Kelompok-kelompok atau
aspirasi-aspirasi acuan merupakan tempat berlabuh yang harus diperhitungkan di
dalam upaya pembinaan tingkah laku siswa. Konsekuensi pentingnya dari hasil
analisis di atas, dapat memberikan wawasan sosiologi kelas kepada pengajar agar
proses pendidikan dan pembinaan siswa lebih efektif
C. Lingkungan Eksternal Sekolah
Kita tahu bahwa sekolah bernaung dalam suatu wilayah
eksternal yang dihuni oleh kumpulan manusia bernama masyarakat.
Gejala timbal balik baik dari sekolah kepada masyarakat
maupun sebaliknya merupakan realitas keseharian yang akan selalu terjadi.
Keberadaan sekolah di lingkungan masyarakat kota akan jelas mempengaruhi
orientasi pendidikan tersebut dibanding dengan sekolah yang terletak di lereng
gunung. Baik dari segi kuantitas peserta didik, maupun kompleksitas kegiatan
yang terjadwal pada kegiatan-kegiatan akademik di sekolah. Tentunya tidak
mungkin, sekolah ”lereng gunung” mengembangkan ekstrakulikuler yang luar biasa
padat dan wajib diikuti oleh seluruh siswa. Selain itu aspek kelas sosial juga memberikan pengaruh
evaluasi belajar yang dilakukan oleh seorang guru. Hasil sebuah pengamatan
ilmiah menegaskan ada hubungan kuat antara status orang tua siswa dengan
prestasi akademis. Selain itu mobilitas aspirasi siswa, kecenderungan putus
sekolah, partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, tingkah laku pacaran
siswa serta pola persahabatan di kalanngan siswa tampaknya juga dipengaruhi
oleh karakter sosial ekonomis orang tua siswa.
Kontribusi berikutnya adalah benturan konflik antarperan
tenaga kependidikan dengan posisi-posisi lain di masyarakat. Getzel dan Guba
menemukan bahwa banyak harapan-harapan yang terkait dengan posisi guru, pada
kenyataannya telah berbenturan dengan harapan posisi lain di luar persekolahan dampak dari konflik ini kadang mengganggu stabilitas individu
atau bisa jadi dapat meluas pada segi-segi materiil di lingkungan sekolah.Seorang
guru olah raga yang sedang menjadi wasit pertandingan sepak bola
antar-kecamatan tentunya akan menghadapi tuntutan masyarakat mengenai
kemungkinan diizinkannya penggunaan fasilitas sekolah. Akan tetapi dua hari
yang lalu sang guru tersebut baru saja mendapat himbauan keras dari kepala
sekolah agar berhati-hati dalam menjaga perlengkapan olah raga milik sekolah.
Peringatan tersebut bukan tak beralasan, akan tetapi didukung sebuah fakta
tentang peristiwa kehilangan beberapa peralatan seminggu yang lalu. Fenomena
tersebut jelas menyokong suatu posisi bahwa konflik antar peranan di dalam sekolah dengan
lingkungan eksternal merupakan sumber potensial utama dari lahirnya ketegangan
di kalangan praktisi pendidikan, khususnya guru.
Melalaui analisis sosiologis, para praktisi pendidikan bisa
secara realistis peka mengkaji kekuatan-kekuatan majemuk yang berlangsung dalam
konteks penyelenggaraan pendidikan. Dengan kekuatan analisis-analisis
sosiologis para praktisi pendidikan bisa lebih jeli memperhitungkan faktor-faktor
organisasi, budaya, dan personal di lingkungan kerjanya masing-masing.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Sosiologi itu adalah suatu ilmu yang mempelajari suatu interaksi seseorang dengan orang lain dan lingkungan masyarakat.
Sekarang bagaimana dengan pengertian sosiologi pendidikan itu sendir Sosiologi ini dicetuskan oleh Aguste
Comte maka dari itu dia dikenal sebagai bapak sosiologi, ia lahir di
Montpellier tahun 179 ciri-ciri
sosiologi menurut Aguste Comte adalah sebagai berikut.
Bersifat empiris yaitu didasarkan pada observasi dan akal
sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif. bersifat teoritis yaitu selalu
berusaha menyusun abstraksi dan hasil observasi.bersifat kumulatif yaitu teori-teori
sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang ada kemudian diperbaiki, diperluas
dan diperhalus
Bersifat nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu
fakta tertentu tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut.
B. KRITIK DAN SARAN
Dalam penulisan makalah ini, tentu banyak terdapat kekurangan.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Daftar Pustaka
S.
Nasution. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara, 1999.
H. Gunawan, Ary. 2006. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
H. Gunawan, Ary. 2006. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hartoto.
2008. Defenisi Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
http://mbegedut.blogspot.com/2011/02/pengertian-sosiologi-pendidikan-menurut.html
http://mbegedut.blogspot.com/2011/02/pengertian-sosiologi-pendidikan-menurut.html
http://arminaven.blogspot.com/2011/06/makalah-pengertian-dan-sejarah-singkat.html
http://pristality.wordpress.com/2011/01/03/definisi-sosiologi-pendidikan/
http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/sejarah-sosiologi-di-dunia-dan.html
http://unsilster.com/2011/05/ciri-tujuan-dan-sejarah-sosiologi-pendidikan/
http://anan-nur.blogspot.com/2011/03/sosiologi-pendidikan.html
http://classpai.blogspot.com/2010/10/ruang-lingkup-sosiologi-pendidikan.html